Pasang Iklan

Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Volume 05 Chapter 06

Selamat membaca manga Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Volume 05 Chapter 06 bahasa indonesia, jangan lupa mengklik tombol like dan share ya. Manga Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Volume 05 bahasa Indonesia selalu update di Mangakita. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga Mangakita ada di menu Manga List.

Pagi selanjutnya.

Aku dan Megumin berjalan-jalan di sekitar desa penyihir merah.

Kami bertemu Yunyun di jalan, jadi kami bertiga berjalan-jalan bersama.

Aku pikir Yunyun akan tinggal sementara, tapi tampaknya dia ingin segera kembali ke Axel.

Bagaimanapun, itu dimengerti kenapa dia ingin kembali dengan sangat cemas.

Setelah pertarungan dengan Sylvia, desa penyihir merah telah berubah.

“Ah! Dia ‘seseorang dengan petir biru terang di belakangnya’, Yunyun! Lama tidak bertemu, aku ingin sarapan, ingin ikut?”

Gadis dengan umur sekitar Yunyun dan Megumin berkata kepada Yunyun.

Yunyun menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tersipu.

Gadis yang berbicara dengan Yunyun tidak senang dengan reaksi Yunyun, berkata ‘seperti itukah, sayang sekali’ dan pergi dengan senyuman dan melambai.

“… Betapa populernya, ‘seseorang dengan petir biru terang di belakangnya’. Itu hanya sarapan, kenapa kau tidak bergabung dengannya?”

“Jangan mengatakan itu! Berhenti menggunakan nama itu! Ke-kenapa aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh…!”

Kata-kata Megumin membuat Yunyun ingin menangis selagi dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Setelah pertarungan itu, perlakuan semua orang terhadap Yunyun berubah.

Mereka selalu memperlakukannya sebagai orang aneh di desa penyihir merah, dan berpikir tentangnya dengan rasa yang aneh. Tiba-tiba, dia menjadi orang paling populer di desa.

Seorang pria lewat dan berkata kepada Yunyun:

“Oh, itu Yunyun si ‘cahaya petir’! Aku ingin pergi makan…”

“Tidak ikut! Aku tidak ikut!!”

Setelah Yunyun ingin menangis untuk menolaknya, orang itu sungguh tidak peduli, berkata dengan sayang sekali dan pergi dengan melambai.

Ini bisa disebut tipe bully baru.

“… Betapa populernya, si ‘cahaya petir’. Biarkan saja dia meneraktirmu sarapan.”

“Jangan! Mohon jangan mengatakan itu! Jangan memberiku julukan aneh!”

Yunyun menggelengkan kepalanya selagi menutupi wajahnya.

Megumin tiba-tiba menggunakan ujung tongkat sihirnya untuk menusuk pipi Yunyun.

“Apa yang kau katakan, penyihir nomer satu di desa klan penyihir merah! Kau mengabaikanku dan menggunakan nama itu, dan sekarang kau mengatakan kau tidak ingin, betapa egoisnya! Ayo, tunjukkan pose keren itu lagi!”

“Ja-jangan mengatakan itu! Megumin masih terganggu karena itu?! Aku hanya meminjamnya sebentar!”

Yunyun menegur Megumin yang menusuk wajahnya dengan tongkat sihir.

Aku tidak bisa menahan dan memotong pembicaraan mereka:

“Kalian berdua sangat dekat ya.”

Saat dia mendengar itu, Megumin menatap ke arahku—

Lalu dia mengayunkan tongkat sihirnya dan terlihat tidak senang.

“Ayo! Teleport-nya sudah ditentukan ke tujuan Axel! Kita perlu cepat dan bersiap-siap untuk teleportasi!”

“Ahh, tunggu aku Megumin!”

Aku tersenyum selagi aku melihat Yunyun mengejar Megumin dengan panik dan berjalan pelan di belakangnya.

… Kali ini, dua gadis yang umurnya sekitaran Yunyun dan Megumin muncul di depan kami.

“Ah, Funifura, Dodonko.”

Mereka kenalannya kah.

Mereka berdua menunjuk ke arah Megumin.

“Sudah lama tidak bertemu, Yunyun dan penyihir tidak berguna! Bagaimana kabar kalian?”

“Ahhahaha! Si jenius nomer satu dari klan penyihir merah menjadi penyihir tidak berguna nomer satu! Kau sekarang menjadi bahan pembicaraan di desa!”

Megumin yang diejek langsung menerkam mereka berdua tanpa kata-kata.

“Hey, sambutan untuk bertemu dengan teman sekelas yang sudah lama tidak bertemu kalian sungguh spesial!”

“I-ini hanya bercanda! Maaf, aku minta maaf! Ini sudah lama tidak bertemu, jadi kenapa kau masih selalu agresif?!”

“Hentikan, ada apa dengan kekuatan cengkramanmu! Level berapa kau sekarang, sakit, kekerasan itu dilarang!”

Mereka berdua langsung mengibarkan bendera putih setelah serangan Megumin.

Lalu salah satu dari gadis berkata kepada Yunyun:

“… Erm, kau sangat keren kemarin. Sampai sekarang, aku selalu berpikir bahwa kau aneh… banyak hal juga yang telah terjadi.”

Dia memalingkan matanya dengan malu setelah selesai.

“Yeah, aku juga telah merubah pendapatku padamu! Yunyun sangat keren!”

Orang yang satunya lagi berkata…

“Tidak, mohon jangan katakan lagi.”

Yunyun menutupi wajah tersipunya dan ingin menangis.

“Kalian berdua sedikit konslet dalam beberapa hal, jadi kami khawatir dengan kalian.”

“Benar, kadang-kadang Megumin bertingkah seperti anak kecil dan Yunyun terlihat seperti dia akan dengan mudah diincar oleh laki-laki buruk. Tapi kami lega bahwa kalian berdua baik-baik saja.”

Aku merasakan perasaan hangat di hatiku setelah melihat mereka tersenyum.

Ini hebat, meskipun Yunyun sendirian di Axel, temannya akan ada di sini untuknya.

Saat ini, Yunyun tersenyum dan berkata padaku:

“Kazuma-san, izinkan aku untuk memperkenalkan. Ini Funifura dan Dodonko. Selama masa sekolahku, mereka adala te… te-temanku!”

Setelah Yunyun membuat pengenalan dengan senang dan sedikit sombong, aku membungkuk ke arah kedua gadis itu sekali lagi.

Mereka berdua yang disebut sebagai teman Yunyun membungkuk juga dengan malu.

“Apa kabar, namaku Satou Kazuma. Aku salah satu temannya Yunyun, dan aku telah mengawasinya selama ini. Senang bertemu kalian.”

“Se-senang bertemu denganmu juga!” x2

Ngomong-ngomong, ada banyak gadis cantik di desa penyihir merah.

Dan itu membuatku sedikit gugup.

Bagaimanapun, mereka berdua terlihat sedikit gugup juga, atau itu hanya imajinasiku.

Megumin yang sedang melihat percakapan kami tiba-tiba melemparkan bom.

“Oii, aku mengerti kalau kalian kesepian dan tidak punya banyak kesempatan untuk bertemu dengan laki-laki, tapi tolong jangan main mata sama cowok gue.”

“?!” x3

Saat mereka mendengar itu, mereka bertiga kecuali Megumin terkejut.

“He-hey, apa yang kau katakan…?! Jadi kau serius saat kau mengatakan kau menyukaiku semalam?!”

“!!” x3

Ini lebih mengejutkan mereka bertiga.

Dodonko dan Funifura terlena dan bertanya dengan bingung dan gugup—

“Co-co-cowok?! Megumin yang tidak peduli terhadap apapun selain sihir punya cowok?! Itu bohong? Ya kan? Kau menyukai dia seperti pacar?”

“Be-be-benar, pasti itu. Megumin yang tidak peduli terhadap hal seperti itu, tiba-tiba punya cowok… ini mustahil huh?”

Mereka berdua bertanya.

Apa.

Apa ini?

Yunyun berkata dengan panik:

“Ka-Kazuma-san? Apa itu benar? Me-Megumin membuat pengakuan seperti itu…”

Dia bertanya dengan pelan.

Aku bertanya kepada Megumin melalui kontak mata, ‘apa tidak apa untuk mengatakan yang sebenarnya?’.

“Jangan terlalu banyak berpikir tentang ini— Kazuma sudah bertemu dengan orang tuaku dan memberi mereka makanan. Kami bahkan bermandi bersama sebelumnya, dan telah tidur bersama dan menggesekan tubuh kami di dalam selimut. Sesederhana itulah hubungan kami.”

“!!” x3

Funifura dan Dodonko yang pucat mundur beberapa langkah dengan goyah.

Walaupun Megumin tidak berbohong.

Ujung bibirnya menyeringai seakan-akan dia sedang menyombongkan diri.

“… Pfft.”

“!!” x2

Dia tertawa kecil.

“… Wah, waahhh! Ba-bagaimana bisa kau punya cowok ahhh!”

“A-aku tidak iri! Aku tidak iri ahhhh!”

Mereka berdua mengatakan kalimat itu sebelum melarikan diri.

Selanjutnya, Megumin berkata kepada Yunyun yang tersipu dan terlena.

“Yunyun, ada tempat yang ingin aku dan Kazuma kunjungi. Maaf, tapi bisakah kau membantuku untuk meminta penteleportasinya untuk bersiap?”

“Huh?! I-itu… erm, akan kulakukan…! Jadi kalian berdua benar-benar…?”

Yunyun dengan malu-malu melihat ke arahku dan Megumin.

Megumin dia—

Dengan menggunakan nada seperti gadis SMA yang normalnya tidak bisa dia lakukan dan berkata:

“Meskipun salah satu dari kita sudah punya pacar, kita masih berteman selamanya!”

“Wah, waahhhh! Kau biasanya tidak akan berkata bahwa aku adalah temanmu! Aku tidak merasa seperti aku kalah terhadap Megumin sama sekali!!”

Mengikuti belakang Funifura dan Dodonko, Yunyun juga melarikan diri.

–Megumin membawaku keluar desa penyihir merah.

Kami memasuki hutan dan datang ke tempat yang sepi dengan tidak ada siapapun di sekitar.

Hanya suara dari serangga yang bisa terdengar.

Saat ini, Megumin berbalik dan melihat ke arahku.

… Hmm, situasi macam apa ini?

Eh, apa?

Pengakuan cinta?

Tidak, dia sudah melakukannya.

… Apa dia?

Tidak, apa kemarin benar-benar pengakuan?

Tidak tidak, dia barusan juga berkata bahwa aku cowoknya!

Bagaimanapun, dia mungkin hanya ingin menyombongkan diri di depan temannya barusan..!

Jangan jadi ceroboh Satou Kazuma, jika aku berkata ‘aku menyukaimu juga, mohon jadilah pacarku!’, jawabannya pasti akan ‘maksudku bukan suka seperti itu’ atau sesuatu seperti itu.

Pada akhirnya, apa aku benar-benar menyukai Megumin?

Tidak, aku akan dengan mudah jatuh cinta saat ada lawan lain yang memperlakukanku dengan lembut.

Aku tidak menduga aku akan menjadi pria gampangan seperti itu!

Pemikiran seperti itu melintas di dalam pikiranku dan membuatku gelisah.

Megumin menatap ke arahku dan berkata:

“Kazuma… aku bertanya padamu kemarin, dan aku akan bertanya lagi. Kazuma, ingin penyihir hebat kan?”

…. Ada apa ini?

Dia juga bertanya pertanyaan yang sama padaku semalam, jadi apa maksudnya ini?

Aku memberikan jawaban yang sama sebelumnya.

“Jika kau bertanya apakah aku ingin, jawabannya tentu saja iya.”

Aku menjawab apa adanya.

Apa Megumin puas dengan jawaban ini?

“Seperti itukah… hmm, aku membulatkan pikiranku.”

Dia tiba-tiba tersenyum.

… Saat berhadapan dengan laki-laki perjaka yang tidak pernah berpacaran sebelumnya, itu pelanggaran jika menyerang dengan senyuman seperti itu.

Di tempat yang sepi dengan tidak ada siapapun di sekitar, mengatakan ‘aku membulatkan pikiranku’, dan bertanya ‘apa kau ingin penyihir yang hebat’, bukankah itu akan membuat jantungku berhenti berdetak?

“Aku, berencana untuk mempelajari sihir tingkat atas.”

Pemikiran Megumin terlalu ekstrim, dia bertanya terlalu banyak kepada seorang perjaka… apa yang coba dia katakan?

“… Hey, apa yang kau katakan?”

Suaraku menjadi melengking.

Saat aku memberitahunya bahwa aku akan memotong jatah makannya dari 3 menjadi 2 jika dia ingin merapal explosion, dia akan merapal sihir itu dengan tanpa ragu-ragu. Apa yang maniak ledakan ini katakan?

Megumin mengeluarkan kartu petualangnya.

Dan menunjukkannya padaku.

“Aku merasa terganggu. Bahkan sebelum Yunyun berkata bahwa aku penyihir tidak berguna. Mungkin aku tidak akan mempertimbangkan hal ini jika aku tidak pernah bertemu dengan Kazuma, Aqua dan Darkness, dan terus meningkatkan level explosion-ku. Itu sudah terbukti dari bertemu dengan Furnifura dan Dodonko bahwa semua orang di desa penyihir merah pasti mengungkapkan bahwa mereka kecewa terhadapku… aku tidak akan membebankan Kazuma lagi. Aku akan membantu Kazuma dan semuanya… jadi, seperti itulah, dari hari ini dan selanjutnya, aku akan menyegel sihir explosion-ku.”

Setelah selesai, dia tersenyum ke arahku lagi.

Bukan.

Bukan, bukan.

“Hey, tunggu sebentar. Itu akan sangat terbantu jika kau menggunakan sihir tingkat atas. Mungkin seperti itu, tapi itu tidak perlu untuk menyegel sihir explosion-mu. Kita tidak akan melakukan quest setiap hari, jadi kau bisa merapal sihir explosion-mu setiap hari saat kau senggang. Juga, daripada menggunakan itu setiap hari, itu akan menjadi kartu as disaat-saat genting…! Dan bukankah kau memberitahu Yunyun sebelumnya bahwa kau menaruh semua poin skill-mu untuk meningkatkan kekuatan explosion dan menaikkan rapalan cepat?”

Megumin tertawa setelah mendengar apa yang aku katakan.

“Kau ingat dengan baik. Untuk mempelajari skill disaat apapun, aku telah menyimpan poin skill-ku yang berharga… setelah merapal explosion dan menghabiskan mana-ku, aku tidak akan bisa menggunakan sihir lain selama sehari. Disisi lain, jika aku menggunakan sihir tingkat atas, aku tidak akan bisa menggunakan explosion yang membutuhkan banyak mana. Saat aku mempelajari sihir tingkat atas, aku perlu untuk terus merapalnya untuk meningkatkan keahlianku, dan aku akan perlu untuk berlatih.”

Megumin menatap ke arah kartu petualang di tangannya.

… Aku tiba-tiba ingat.

Saat aku pergi dari Axel, Vanir berkata padaku:

“Di tujuan dari perjalanan dirimu, akan ada waktunya saat rekan dirimu membagikan keraguannya dan meminta saran dirimu. Teman itu akan mengubah pikirannya menurut perkataan dirimu. Dirimu harus mempertimbangkan itu secara hati-hati dan memberi saran yang tidak akan dirimu sesali.”

Aku mengerti, jadi dia merujuk ke ini.

Sial, si iblis curang itu, dia sudah meramal ini?

Setelah aku kembali, aku akan menggosokkan air suci ke pegangan toko itu.

Tapi aku bisa membayangkan nanti dimana tangan Wiz terbakar dengan parah.

Seakan-akan dia memegang harta karun yang penuh dengan kenangan berharga, Megumin menatap kartu itu dengan lama.

Lalu dia perlahan menutup matanya.

Mengambil nafas dalam-dalam, dan membuka matanya lagi.

Lalu dia berbalik menunjukkan punggungnya ke arahku, dan memberikan kartunya seakan-akan dia menahan sesuatu.

Bahu Megumin gemetar sedikit.

“Maaf Kazuma. Bolehkah aku memintamu untuk melakukan sesuatu yang kejam?”

“… Kau tidak bisa memaksakan dirimu untuk mempelajari sihir tingkat atas, jadi kau ingin aku untuk memaksamu, kan?”

Megumin menganggukkan kepalanya.

Betapa bodohnya…

“Bagaimana kalau memikirkannya lagi? Kita sudah mendapatkan sejumlah besar uang di penyimpanan kan? Kita tidak perlu melakukan quest berbahaya lagi. Kita bisa hidup dengan kehidupan yang bahagia di mansion itu, kau bisa memusnahkan monster lemah dengan explosion dari sekarang dan selanjutnya, dan kita semua bisa hidup bahagia selamanya.”

Megumin tertawa.

“Saat aku berkata aku tidak niat untuk mempelajari sihir tingkat menengah terakhir kali, Kazuma terus memarahiku karena itu.”

Bahunya gemetar seakan-akan dia mendengar beberapa candaan, tapi dia masih menekan kartunya di depanku dengan bersikeras.

Aku mengambil kartu itu dengan diam.

“… Kau tidak akan menyesali ini?”

Aku berkata ke punggung Megumin.

“Tidak. Aku tidak mau merubah keputusanku lagi. Jika aku klan penyihir merah yang normal, Kazuma pasti tidak akan dikejar-kejar oleh orc dan menangis, Sylvia juga tidak akan menculik Kazuma… aku adalah nomer satu di klan penyihir merah, seseorang yang mempunyai sihir tingkat atas! … Aku akan mengatakan ini dari sekarang dan seterusnya. Aku punya lebih banyak mana daripada Yunyun, jika aku bisa menggunakan sihir tingkat atas, aku pasti akan menjadi penyihir terkuat di klan penyihir merah. Aku tidak akan membiarkan Yunyun mengambil tempat nomer satu.”

Megumin berkata dengan bertekad.

Dengan senyuman yang dipaksakan di wajahnya.

… Betapa bodohnya.

Dia sangat menyukai explosion, dan memberikan semuanya kepada sihir explosion.

Aku diam-diam memberedeli kartu Megumin.

Tapi untuk memikirkan itu mungkin bisa untuk menggunakan kartu orang lain.

Jika aku tahu sebelumnya.

Contohnya, saat pertama kali aku bertemu dengan mereka, aku bisa mencuri kartu Darkness dan Megumin, dan mengambil poin skill dari kartu mereka.

Setelah aku selesai, aku memberikan kartu itu kepada Megumin.

Tanpa melihat kartu itu, dia secara santai mengambil kartu itu dan menekan ke dadanya.

Lalu dia berbalik.

“Ini hanya masalah waktu untuk kembali ke yang lain! Bersama dengan Aqua dan Darkness, ayo kembali ke Axel. Oh benar, bounty dari Sylvia sangat tinggi kan?”

“Hmm, seperti itukah?! Kalau begitu ayo kembali dan berpesta.”

Saat Megumin ingin kembali ke desa penyihir merah, aku menghentikannya.

“Oh, benar. Megumin, cobalah rapal sihir explosion.”

Aku tiba-tiba memintanya.

Saat Megumin mendengar perkataan itu.

“… Kau sungguh… aku sudah menguatkan diriku, dan belum lima menit, kau ingin aku merapal explosion, hanya apa yang kau pikirkan?”

Dia tidak tahu apalagi untuk dikatakan.

“Dari di mana aku berasal, di sana ada perkataan ‘aku akan bekerja keras besok.’ Juga, aku belum melihat nilai 100 dari explosion-mu. Explosion itu juga yang terserap oleh senjata itu dan membunuh Sylvia. Apa kau tidak apa dengan explosion terakhir yang menjadi sangat tak enak?”

“… Kau sungguh tidak menahan tau? Baiklah, ini akan menjadi sihir explosion terakhirku. Aku akan menunjukkan tembakan yang terkuat!”

Setelah selesai, Megumin membidik batu yang ada di beberapa jarak dari kami dengan gerakan yang berlebihan.

“… Tunggu, Me-Megumin. Tahan, jangan incar yang sangat dekat, incar target yang jauh. Kau akan memberikan semuanya terhadap ledakan mematikanmu ini kan? Kalau begitu bidik batu di sebelah sana.”

Aku menunjuk ke arah batu besar di luar hutan, berada tepat di tengah-tengah dataran.

Megumin memiringkan kepalanya saat dia mendengar permintaan mendadakku.

“Aku tidak masalah, walaupun itu hampir tidak masuk jarak serangku… baiklah, akan kutunjukkan padamu, explosion terakhirku dengan kekuatan penuh!”

Kegembiraan yang muncul di wajahnya datang dari lubuk hatinya yang terdalam, bukan senyuman palsu yang dia paksakan sebelumnya.

Megumin yang cekikikan sedang menikmati dirinya sendiri selagi dia merapal sihir explosion-nya…!

“Explosion–!!”

Di ujung tongkat sihirnya yang diangkat, cahaya yang hebat bersinar, sinar itu menembakkan lurus tepat ke batu itu.

Tak diragukan, itu ledakan terbaik yang pernah aku lihat.

Bersama dengan suara yang memekakkan telinga, ledakan udara yang lebih besar daripada yang aku kira tertiup ke arahku.

Jika dia menggunakan ini kepada Sylvia, dia mungkin bisa membunuhnya tanpa mengandalkan senjata itu. Sekuat itulah.

Setelah menyaksikan kekuatan dari sihir yang dia rapal, Megumin terkejut, dan segera mengeluarkan kartunya.

Setelah memeriksa isinya, dia menatap dengan intens ke arahku, tidak bisa menahan kegembiraan di dalam hatinya selagi dia menunjukkan ekspresi yang rumit yang terisi dengan perasaan menyesal dan bahagia.

Sesaat kemudian, dia mengibaskan jubahnya dan tersenyum yang terbebas dari keraguan selagi dia memperkenalkan dirinya.

“Namaku Megumin! Penyihir nomer satu di Axel, arch wizard pengguna sihir explosion, seseorang yang akan mencapai puncak dari sihir explosion!”

Megumin yang seperti biasanya ada di depanku.

Aku mengikuti keinginan Megumin dan menaruh poin skill-nya untuk meningkatkan kekuatan dari ledakannya.

Dia bertanya jika aku akan menginginkan penyihir hebat.

Tapi tidak ada penyihir yang lebih hebat dibanding Megumin kami.

Lagipula, dia hanya perlu satu sihir explosion untuk membuat pemimpin pasukan raja iblis menjadi bodoh dan membunuh mereka.

Jika ada penyihir apapun yang memiliki hasil lebih baik darinya, aku ingin bertemu dengan mereka.

Dan yang aku mau bukanlah penyihir hebat, tapi…

Megumin yang arogan yang menekan dada mungilnya dan berkata:

“Berapa banyak poin dari explosion itu?”

Dan tentu saja, itu…

“Seratus dua puluh poin.”

Megumin tersenyum cerah saat dia mendengar kata-kata ini—

chapter-6

All Translation Thanks To: Pantsu Translation





tags: baca Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Volume 05 Chapter 06, Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Volume 05 Chapter 06 manga, Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Volume 05 Chapter 06 online, Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Volume 05 Chapter 06 bab, Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Volume 05 Chapter 06 chapter, Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Volume 05 Chapter 06 high quality, Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! Volume 05 Chapter 06 manga scan, ,

Partner: Oploverz | Mangaku | Mangacan | Mangakyo | Mangashiro | Mangaindo | Silver Yasha | Komikstation | Komikfox | Achanime | NilaiTP | Pecinta Komik | NeuManga | Kiryuu | Overlordfree | Bacamanga

Totobet SGP