Pasang Iklan

Ace’s Story Volume 01 Chapter 01.1

Semua chapter ada di Ace’s Story Volume 01
Selamat membaca manga Ace’s Story Volume 01 Chapter 01.1 bahasa indonesia, jangan lupa mengklik tombol like dan share ya. Manga Ace’s Story Volume 01 bahasa Indonesia selalu update di Mangakita. Jangan lupa membaca update manga lainnya ya. Daftar koleksi manga Mangakita ada di menu Manga List.

DILARANG MEMIRROR TANPA SEIZIN KAMI DAN DILARANG KERAS MEMPERJUAL-BELIKAN HASIL DARI TERJEMAHAN KAMI

Dipersembahkan oleh:

Penerjemah: Joker-san

 

BAB SATU

           Aku telah menyimpang dari jalan kehidupan yang benar dan penuh kehormatan sehingga aku memutuskan untuk berlayar di laut.

           Aku merasa, di tengah ombak biru laut yang tak ada habisnya itu, aku dapat menemukan dunia di mana aku benar-benar bisa hidup. Dunia penuh petualangan yang kuimpikan sejak kecil. Dunia penuh impian, di mana yang kumiliki hanyalah sebuah buku dan imajinasiku. Dan di dunia itulah saat ini aku berada.

           Sebuah pulau terpencil di bawah pohon palem. Terik matahari. Pasir putih. Perut keroncongan. Semua itu benar-benar nyata. Satu-satunya hal yang bisa menjadi alat penanda waktu adalah desiran ombak yang tenang di pantai. Aku terdampar di semacam pulau indah seperti yang sering kau baca di buku cerita, mendengarkan teriak parau burung laut.

           Sejak kecil, aku ingin menuliskan sebuah cerita petualangan ke dalam buku. Kalau bisa, aku ingin menulisnya seperti sebuah buku yang berjudul Brag Men. Itu adalah buku favoritku.

           Buku itu berisi kumpulan jurnal dari para penjelajah di masa lalu. Salah satu bab yang paling terkenal menceritakan tentang Little Garden, pulau para raksasa. Orang-orang dewasa menertawakannya dan mengatakan bahwa semua cerita itu bohong, tapi sebagai anak kecil aku selalu bertanya-tanya, Dari mana munculnya keyakinan mereka itu?

           Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, daripada memercayai opini tak berdasar orang lain terhadap cerita tersebut. Dan aku akan memastikan kebenarannya dengan melihatnya secara langsung. Sikap seperti itulah yang ingin kutanamkan dalam diriku.

           Bagian dari diriku itu tidak pernah berubah. Bahkan sikap itu muncul pada diriku saat di pulau tak berpenghuni yang konon katanya mustahil untuk bisa keluar.

           East Blue. Pulau yang luar biasa indah bernama Sixis.

           Ada yang mengatakan bahwa pulau itu adalah “Pulau yang paling dekat dengan Surga.” Mengapa mereka berkata demikian? Sebab, begitu kau menginjakkan kaki di pulau itu, kau akan mati sebelum bisa keluar dari sana.

           Di seberang laut dangkal nan hijau, aku bisa melihat sebuah arus laut yang unik. Arus yang menarik siapapun yang berada di sekelilingnya menuju ke pulau itu seperti seekor undur-undur. Siapapun yang terbawa arus sampai ke pulau itu harus siap menerima bahwa itu akan menjadi liburan terakhir dalam hidup mereka.

           Aku menghela napas panjang dan duduk di bawah bayangan pohon palem sambil memandangi air dengan tatapan kosong. Sudah tiga hari aku berada di pulau ini. Ini merupakan liburan terburuk dalam hidupku.

           Angin laut berhembus menyentuh pipiku, namun bau tajam dari air garam di hidungku menjadi kenyataan pahit yang menyertainya. Ditambah pemandangan dari pengunjung pulau ini sebelumnya: sebuah kerangka manusia yang tergeletak di dekatku.

           Dilihat dari pakaiannya, kerangka manusia ini dulunya adalah seorang bajak laut. Sebuah pistol berkarat terjepit di kerangka tangannya, dan cincin mewah berkilauan yang ada di jemarinya. Ini adalah pemandangan yang menyedihkan. Baik senjata maupun permata tidak akan bisa ikut dibawa mati.

           Satu-satunya hal yang akan kau tinggalkan di dunia ini hanya tulang-belulang…

           “Kita sama-sama mengalami hal yang buruk, ya?” Gumam diriku. Aku merasa aku harus melakukan itu, atau aku akan lupa cara mengeluarkan suaraku sendiri. Jika aku akan berakhir seperti dia di kemudian hari, setidaknya ada sedikit ketenangan yang bisa kuberikan…

           “Bodoh sekali aku ini…”

           Aku bersandar di pohon dan memejamkan mata. Aku membasahi tenggorokanku yang kering dengan menelan sedikit air liurku. Tanpa disadari, aku mulai merasa bahwa aku takkan bertahan hidup. Itu merupakan pertanda buruk.

           “Ayolah, setidaknya mari kita gali sebuah kuburan. Aku akan membantumu.”

           “Kuburan, ya… Ide bagus… Ayo kita coba…”

           Membiarkan kerangka manusia itu tergeletak begitu saja bukan hal yang wajar. Alangkah baiknya jika dia dibuatkan kuburan agar bisa diistirahatkan dengan layak. Entah siapa yang mencetuskan ide itu, tapi itu adalah ide yang bagus.

           Aku menelan air liurku lagi. Tenggorokanku benar-benar kering.

           Aku harus mencari air. Sudah dua hari aku tidak meminum minuman yang layak. Andai saja ada kelapa di pohon palem ini. Apakah ada monyet dalam hutan yang ada di belakangku? Atau memang ini bukan musimnya? Yang jelas, aku tidak bisa menemukan satu pun buah di sini.

           Teriakan burung laut terdengar parau seperti biasanya. Aku memfokuskan telingaku pada suara desiran ombak yang muncul berulang kali. Air laut tak terhitung jumlahnya, namun tak ada setetes pun yang dapat diminum…

           “Siapa yang mengatakan itu?”

           Mataku tiba-tiba terbuka dan aku menegakkan posisiku. Aku sendirian di pulau kosong ini, tapi aku yakin barusan aku saling membalas ucapan dengan seseorang.

           Lalu, aku mendengar suara sepatu yang menginjak pasir. Sepatu bot hitam lebih tepatnya. Ada seorang pria yang berdiri di hadapanku. Caranya membelakangi pantulan cahaya di laut, seakan membuatnya memancarkan cahaya suci.

           “Halo, senang bertemu denganmu,” kata pria itu dengan nada yang sopan sambil membungkuk. Dia sangat ramah walau tak ada siapa-siapa di sini.

           “Namaku Ace. Aku habis berjalan-jalan di sekitar pantai. Apa yang sedang kau lakukan?”

           Pria itu memiliki senyum yang ramah dan bersahabat. Garis-garis cahaya di bawah pohon membuat topi oranyenya seakan menyala.

           Aku sampai harus menyipitkan mataku saat menatapnya sambil menengadah, dan dia pun akhirnya jongkok agar sejajar denganku. Kalung merah di lehernya sedikit ikut terayun saat dia berjongkok.

           Begitu pandangan kami sejajar, aku bisa melihat bahwa dia adalah pemuda dengan bintik-bintik di wajahnya. Kemungkinan usianya tidak jauh beda denganku. Tubuhnya yang kurus seakan memunculkan sensasi petualangan, dan suara ombak.

           Begitulah pertemuan pertamaku dengan Portgas D. Ace.

           Aku tak bisa berkata-kata karena terkejut. Yang bisa kulakukan hanyalah menatapnya dengan mata melotot. Saat terdampar di pulau tak berpenghuni, hal yang paling tidak diduga adalah menemukan seorang penduduk. Begitu bertemu dengannya, kata yang langsung terlintas dalam pikiranku adalah “pertolongan.”

           Pria ini… Penyelamat ini… yang menamakan dirinya Ace pun meneruskan, “Maaf jika merepotkanmu, tapi kapalku karam. Maukah kau membantuku?”

           “Kau mengalami hal yang sama denganku!”

           Dalam pikiranku, aku hanya bisa berteriak. Aaaaaaaaaaah!

           Dari sekian banyak lautan di dunia yang luas ini, kenapa bisa ada orang yang secara kebetulan mengalami karam kapal di tepi laut pulau sial ini bersamaan denganku? Pertanda apa ini? Ini adalah keajaiban paling menakutkan dan tidak berguna yang pernah kulihat.

           Dengan nada tak bersemangat, aku menggumam, “Kapalku juga karam saat badai terakhir, dan berakhir menjadi donasi untuk Davy Jones, beserta seluruh muatan di dalamnya. Kau ingin aku berkata apa? Badai membuatku menjadi seorang dermawan.”

           Bibirku sangat kering dan pecah-pecah sampai-sampai berdarah ketika aku berbicara. Sudah lama sekali aku tidak berbicara dengan orang lain.

           Ngomong-ngomong, Davy Jones adalah bajak laut lama. Menurut legenda, dia dikutuk oleh iblis dan hidup di dasar laut hingga saat ini. Jadi, segala sesuatu yang tenggelam ke dasar laut akan menjadi hartanya. Walau begitu, orang-orang tidak percaya bahwa dia masih hidup; namanya juga legenda. Tapi, andai dia masih hidup, aku akan mengambil kembali barang-barang yang kusumbangkan. Hei, kawan. Tadi itu cuma sebuah kecelakaan. Bisakah kau kembalikan barang-barangku?

           “Begitu, ya… sepertinya kita sama-sama mengalami hal yang buruk,” kata Ace sambil tersenyum. Orang ini terlihat senang dan merasa beruntung karena mengalami karam kapal.

           Aku merasa kesal dengan sikapnya itu. Pertama, aku heran dia masih bisa tersenyum dalam keadaan seperti ini. Kedua, aku tak menyangka dia akan mengatakan hal yang sama dengan apa yang kukatakan pada kerangka manusia itu beberapa saat lalu.

           Tapi, aku tak bisa menyalahkannya. Aku pun segera menata ulang suasana hatiku. Orang ini kemungkinan belum menyadari betapa mengerikannya pulau ini. Dia adalah korban karam pemula. Apa pula itu korban karam pemula? Kelaparan dan kehausan membuat pikiranku tidak karuan.

           “Aku… sudah tiga hari berada di sini,” gumam diriku dengan pelan, namun terdengar jelas.

           Benar sekali. Aku sudah menghabiskan tiga hari di sini. Mampukah kau melakukannya? Rasanya aku seperti sedang menyemangati dan menantangnya di saat yang bersamaan.

           “Aku sudah enam hari di sini. Aku yang menang.”

           “Apaaaaaaa?!” Teriak diriku. Dia jauh lebih parah dariku.

           “Yah, itu tidak penting. Aku sedang membuat rakit, tapi kelihatannya ini takkan berhasil. Bisakah kau membantuku membuat kapal untuk keluar dari pulau ini?” Pinta Ace dengan nada ceria.

           Dia menceritakan bahwa dia sudah membuat dua hingga tiga rakit dadakan untuk keluar dari pulau ini, tapi upayanya membuahkan hasil. Dia sedang putus asa ketika bertemu denganku di pantai.

           Bekerja sama untuk membuat kapal…

           Entah kenapa, aku merasa itu saran yang menarik. Tapi di sisi lain, itu sama saja dengan mempercayakan dan menggantungkan nasibku pada orang asing yang baru saja kutemui.

           Tentunya, semakin banyak tenaga akan semakin baik. Tapi, keadaan tidak berpihak pada kami. Ini adalah pulau kosong kecil. Dengan sumber daya yang terbatas. Untuk membuat satu orang bertahan hidup saja sudah sulit, apalagi kalau ada dua orang dewasa. Air untuk dua orang. Makanan untuk dua orang. Kapal yang cukup ditumpangi dua orang. Dan kami harus mencari semua itu dari keterbatasaan yang ada di pulau ini? Itu konyol sekali.

           Bagaimana jika makanan yang kami temukan hanya cukup untuk satu orang saja? Apakah aku harus membaginya dengan orang asing ini?  Normalnya, itu hal yang pasti dilakukan. Tapi, bagaimana jika salah satu dari kami ingin menimbun makanannya untuk dirinya sendiri? Bagaimana jika dia sengaja menyarankan bekerja sama hanya untuk menghkhianatiku saat sudah terdesak?

           Banyak orang tega saling mengkhiati pada saat-saat tertentu. Dan kami berada dalam situasi hidup dan mati. Tak ada orang lain selain kami di sini. Apakah aku bisa mempercayai seseorang yang terjebak bersamaku di sini?

           Tidak, aku tidak akan membantunya. Aku tidak membutuhkan teman. Dari awal aku berlayar ke laut, aku sudah memutuskan untuk melakukannya sendiri, tanpa bantuan siapapun. Dengan begitu, setidaknya aku tidak perlu khawatir akan dikhianati.

           Namun, ketika bertemu dengan Ace, dan saat dia berbicara padaku, aku menyadari bahwa sebagian diriku merasakan adanya harapan. Menyedihkan memang. Bagian diriku yang itu memang lemah.

           Kupikir dia datang untuk menyelamatkanku.

           Meskipun ternyata itu tidak benar.

           Kegembiraanku langsung menghilang dengan cepat. Rasanya aku seperti sedang mengamati diriku sendiri dari luar seakan aku ini adalah orang asing. Walau sudah memutuskan untuk melakukan semuanya sendiri, namun begitu aku sendirian di sebuah pulau kosong dan tiba-tiba bertemu orang lain, aku merasa senang. Itu sangat menyebalkan.

           Tapi, hal itu pun tidak berlangsung lama. Ada semacam perasaan kesepian yang kurasakan ketika bersama orang lain yang tak kurasakan ketika sedang sendirian. Secara paradoks, saat aku bersama seseorang, apapun keadaannya, aku selalu merasakan kekosongan dalam diriku.

           “Ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu,” katanya.

           Baru beberapa menit kami bertemu, tapi Ace sudah merasa nyaman berada di dekatku. Aku benci itu. Aku sangat tidak suka memberi tahukan namaku pada orang lain, atau membiarkan orang seenaknya menanyakan hal itu.

           “Aku tidak sudi memberi tahukan namaku pada orang sepertimu,” gumam diriku. Aku tidak akan memberi tahu nama asliku padanya, apalagi ini adalah pertemuan pertama kami dan aku masih belum bisa mempercayainya. Begitu aku memutuskan untuk melakukan semuanya sendirian, aku pun membuang namaku.

           “Kenapa begitu? Kita ‘kan sudah jadi teman,” balas Ace. Sejak kapan kita berteman? “Ayolah, setidaknya beri tahukan namamu.”

           “Tutup mulutmu. Kau ingin tahu namaku? Aku bisa memberikanmu nama samaran,” jawab aku, sambil memutuskan untuk bersikap keras jika Ace terus memaksa.

           “Nama samaran?”

           “Ace adalah nama yang bagus. Mungkin aku akan menggunakannya ketika tiba saatnya bagiku untuk menulis kisah petualanganku.”

           Aku tidak bermaksud mengatakan itu. Mendadak aku merasa aneh. Tiba-tiba hal itu terucap di tengah percakapan kami, ada apa dengan tempat ini, dan situasi ini, yang membuatku menyinggung soal impian masa kecilku barusan?

           Ekspresi Ace jadi murung ketika mendengar ideku untuk menggunakan nama panggilannya.

           “Tunggu dulu. Itu ‘kan namaku.”

           “Sudah kubilang padamu kalau itu akan jadi nama samaran. Aku bebas memilih julukan yang kuinginkan.”

           “Jangan. Aku ingin mengukir kejayaan dengan nama ini. Aku tidak ingin kau menirunya.”

           Kejayaan, katanya. Dari situ aku jadi tahu orang seperti apa Ace itu… sekaligus alasan mengapa dia terdampar di pulau ini.

           “Adakah harta karun yang kau temukan?” tanyaku, sambil mengabaikan topik pembicaraan sebelumnya.

           Ace pun terpancing, “Kenapa? Kau mengetahui sesuatu?”

           “Nah… hanya rumor saja…”

           “Harta karun besar selalu datang pada bajak laut yang kuat. Itulah yang selalu kuyakini. Namun, apa yang terjadi? Aku kehilangan kapalku, dan tidak menemukan harta karun. Tak ada pula hadiah yang bisa dikumpulkan, dan aku juga tidak bisa keluar dari sini. Pulau ini adalah lubang kesialan,” keluhnya.

           Dari caranya berbicara, rasanya seakan dia ingin mengukir namanya sendiri dengan menemukan suatu harta karun legendaris, atau mengalahkan seorang bajak laut terkenal, atau semacam itu. Tak kusangka dia malah terdampar di pulau ini karena rasa kesombongan belaka…

           Sudah lama beredar cerita mengenai pulau ini yang katanya menyimpan sebuah harta karun, mungkin karena keindahan alamnya. Itu adalah cerita yang terkenal di kalangan para pelaut di sekitar pulau ini. Tapi, tak ada satupun dari mereka yang berani mendekati pulau ini. Tentu saja mereka tidak berani; begitu mereka mendarat, mereka tidak akan bisa keluar. Sekali pun ada harta karun yang bisa ditemukan.

           Selain itu, rumor mengenai harta karun adalah hal biasa bagi para pelaut. Mereka tidak mengetahui apapun soal pulau ini. Mereka hanya menunjuk sebuah pulau yang terlihat indah dari kejauhan dan mengarang cerita apapun sesuka mereka.

           Di mana pun dia mendengarkan cerita ini, yang jelas Ace pasti langsung menganggap serius cerita yang didengarnya dan sampai ke tempat ini dengan sengaja. Jadi, dia tipe orang yang akan jatuh karena ambisinya sendiri. Keyakinanku untuk bekerja sama dengannya pun mulai berkurang.

           “Aku tahu! Kau bisa jadi Deuce!” celetuk Ace. “Untuk nama samaranmu, ‘kan? Deuce. Itu cocok dengan Ace, bukan?”

           “Deuce? Apa maksudmu?”

           Deuce. Seperti dua kartu atau dadu yang sama? Itu juga berarti keberuntungan yang buruk. Yah, itu sangat cocok dengan situasiku saat ini. Harus kuakui, itu nama  yang cocok… Namun, aku ingin memastikannya kembali pada Ace.

           “Apa kau tahu arti dari kata Deuce?”

           “Tidak. Namun, kedengarannya mirip, bukan?” ucap dia dengan polosnya. Kurasa dia sama sekali tidak mengetahuinya. Dengan ekspresi wajah yang serius, Ace melanjutkan, “Sayangnya, Ace adalah namaku. Dan aku tak bisa memberikannya padamu. Jadi, kurasa sebaiknya kau menggunakan nama Deuce sebagai nama samaranmu. Lagipula, Ace dan Deuce terdengar mirip.”

           “Jangan cuma mengatakan ‘Terdengar mirip’!”

           “Dengar, kau tidak memberi tahukan nama lain yang bisa kugunakan untuk memanggilmu. Lagipula, jika ada dua orang dengan nama Ace di pulau ini, kita bakalan bingung mana Ace yang sebenarnya. Coba bayangkan! Jika aku sendirian, dan seharusnya aku adalah Ace, dan aku memanggilmu Ace, berarti aku ini siapa?!”

           “Eng… tentu saja kau tetaplah Ace. Lagipula, yang kumaksud di sini adalah nama samaran. Aku tetap akan menggunakan itu nanti. Bila saatnya tiba. Aku tidak bilang bahwa aku akan menggunakan nama Ace hari ini…”

           “Yang jelas, aku jadi tidak nyaman saat ingin berbicara denganmu jika kita menggunakan nama yang sama. Jadi, aku akan memanggilmu Deuce! Mengerti?” paksa dia. Aku tidak menyukainya, tapi dia adalah orang yang bebas. Lagipula, aku juga tidak ingin terlalu dekat dengannya.

           “Sekarang, mari kesampingkan itu dulu, Deuce, ada hal yang sejak tadi membuatku penasaran,” ucap Ace, sambil mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menatap wajahku. “Apa semua orang di tempatmu berasal menggunakan benda itu? Atau itu digunakan untuk semacam festival?”

           Yang dia maksud adalah topeng yang menutupi wajahku… atau mataku, lebih tepatnya.

           “Ups! Apakah itu sesuatu yang seharusnya tidak boleh kutanyakan?” tambahnya dengan perasaan khawatir. Sejak dia memperkenalkan diri, ada suatu kecanggungan dan kesopanan yang aneh dengan sikapnya. Tapi, dia tidak perlu khawatir. Ketika aku berlayar ke laut dan membuang namaku, aku juga memilih untuk menyembunyikan wajahku.

           “Tidak, aku memakai ini karena aku menginginkannya.”

           “Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu Masked Deuce. Mantelnya juga cocok dengan nama itu. Ya, aku menyukainya,” gumam Ace, seakan merasa puas sendiri.

           “Jangan memanggilku dengan nama aneh itu!” bentakku. Aku tidak boleh membiarkannya seenaknya terhadapku. Orang aneh bernama Ace ini punya cara bergaul yang berbeda dari orang lain.

           Dan tujuan penggunaan topengku ini adalah supaya orang aneh seperti dia tidak mengetahui identitasku. Akan lebih mudah untuk terhindar dari masalah jika orang-orang tidak bisa mengenali wajahmu.

           “Dengar, aku sudah menggunakan topeng ini sejak pertama kali berlayar ke laut,” jelasku. “Jika nantinya Angkatan Laut mulai mengincarku, topeng ini akan membuat mereka kesulitan mengenaliku. Itu sesuatu yang logis, paham?”

           Itu merupakan suatu perbuatan simbolis, lebih tepatnya… sebuah penanda kebulatan tekadku. Ketika aku memilih untuk hidup mandiri di laut, aku telah membuang nama dan wajahku di daratan. Setelah itu, untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa hidup. Sang siswa kedokteran yang gagal sudah tak ada lagi. Tak ada tempat bagiku di daratan yang kering.

           Ayahku adalah dokter yang hebat, dan kakakku juga mengikuti jejaknya menjadi dokter yang hebat. Aku adalah pengecualian dalam keluarga karena aku satu-satunya anak yang tidak hebat.

           Satu-satunya hal yang dikatakan ayahku setiap kali kami bertemu adalah, “Jangan mempermalukan aku.” Aku tidak pernah mendengar ucapan lain dari mulutnya selain ucapannya yang satu itu.

           Aku selalu disbanding-bandingkan dengan kakakku yang hebat. Ayahku benar-benar menganggap seolah aku tidak ada. Dia menjauhi dan mengabaikanku sebisa mungkin.

           Bahkan aku dan kakakku pun suka diledek teman-teman kami karena kami terlihat seperti bukan saudara kandung. Kakakku mungkin menjauhiku karena dia kesal mereka menjadikannya bahan ejekan.

           Dan teman-temanku juga biasanya menjauhiku, kemungkinan tidak ingin dianggap bodoh karena bergaul denganku. Mereka mendekatiku hanya pada saat ingin mengejekku saja. Nyatanya, sekarang aku sadar bahwa mungkin mereka bukanlah temanku. Mungkin akunya saja yang mengira mereka adalah temanku.

           Tak ada tempat bagiku di sana. Ada atau tidaknya aku tak akan mengubah apapun. Singkatnya, aku adalah orang yang tidak penting. Itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

           Tapi, walaupun ini mungkin hanyalah kisah membosankan begitu-begitu saja yang sudah sering terjadi dan bisa terjadi di mana saja, entah nyata atau dibuat-buat, tetap saja aku merupakan protagonis dari kisah lama membosankan itu. Jika memang itu yang harus kujalani, berarti aku bebas untuk jujur terhadap perasaanku dan menjadi apa yang kuinginkan.

           Kehidupan di kampung halamanku setiap harinya merupakan sebuah pengulangan dari sesuatu yang begitu-begitu saja. Perlahan-lahan, aku mulai menyadari perasaan bodoh ini yang awalnya samar-samar, namun semakin hari semakin kuat, di mana aku merasa bahwa aku bukanlah diriku yang sesungguhnya. Tapi, aku ingin menjadi diriku yang sesungguhnya. Aku ingin menjalani kehidupanku yang sesungguhnya. Dan selagi aku kesulitan memikirkan kekosongan dalam hidupku, aku tidak sengaja melihat buku Brag Men.

           Ketika membacanya, pemandangan laut yang jernih dan berkilauan terasa nyata. Itu sama mengejutkannya seperti saat aku menyadari bahwa kehidupanku ternyata tidak berwarna, dan warna sejati dari kehidupanku berada di laut.

           Saat itu, aku merasa menjadi diriku yang sesungguhnya. Aku merasa bahwa hanya kehidupan inilah yang pantas bagiku. Dan begitu semua sudah terasa jelas, aku tahu bahwa aku harus mencurahkan segalanya.

           Aku harus menjalani kehidupan itu dengan sepenuh hati, dan terus melangkah ke depan seolah kematian terus membuntutiku. Jika aku terjatuh, aku akan berenang melewati air selokan untuk bisa bangkit kembali. Dan sesuatu yang kubutuhkan untuk bisa membuat semua ini terwujud adalah topeng.

           Aku memerlukan topeng untuk bisa menjadi diriku sendiri.

           “Aku tidak tahu apakah itu dianggap hal yang logis. Menurutku seorang pria itu harus jantan, memperlihatkan wajahnya dan dikenali. Aku tak bisa membayangkan jika harus melakukan hal yang sebaliknya,” tutur Ace.

           Aku tersadarkan kembali setelah melamun memikirkan masa laluku. Rasanya seolah sudah sangat lama aku meninggalkan kampung halamanku.

           “Aku tidak ingin jadi buronan,” jelasku. “Aku hanya menginginkan petualangan, itu saja.”

           “Tapi tetap saja, kau tidak perlu sampai berlebihan untuk menyembunyikan nama dan wajahmu, ‘kan?”

           “Kau tidak mengerti. Di kampung halamanku, orang-orang diejek karena memilih kebebasan di laut. Mereka memperlakukan bajak laut, penjahat, dan para petualang dengan perlakuan yang sama. Jika orang-orang tahu keluargaku memiliki hubungan darah dengan seorang buangan sepertiku, keluargaku pasti akan dihujat.”

           “Ah, aku mengerti… Aha!” ujarnya, dengan ekspresi wajah gembira dan penuh pemahaman. “Kau menyayangi keluargamu, ya?”

           “Ha?”

           “Kau meninggalkan keluarga dan kampung halamanmu, dan kau tidak ingin mereka terkena masalah, ‘kan?” terka Ace.

           “Aku tidak menyayangi mereka!” tegasku. “Aku sama sekali tidak menyayangi mereka. Aku benci mereka! Karena itulah aku berada di sini!”

           “Benarkah? Aneh. Itu tidak sesuai dugaanku,” ujar Ace sambil mengerutkan wajah dan menggaruk rambut hitamnya yang berkilau. “Itu pasti tidak benar…”

           Dalam artian tertentu, dia ada benarnya. Memang seharusnya tidak seperti itu. Tapi, aku tidak punya cara lain untuk menjelaskannya.

           “Ngomong-ngomong soal keluarga, aku punya seorang adik. Walau tidak sedarah, sih,” ujar Ace sambil melihat ke laut. “Dia sangat rewel dan sulit diatur, seperti seekor monyet. Aku tidak terlalu memikirkannya ketika kami masih tinggal bersama, tapi ketika sudah hidup sendirian seperti sekarang ini, aku terkejut karena aku sangat merindukan dia.”

           Dia tertawa sendiri. Jadi, keluarganya Ace adalah seorang adik yang tidak sedarah dengannya. Dan saat memikirkan adiknya itu, dia tersenyum.

           Aku merasa setengah iri dan setengah kesal pada Ace. Aku berada jauh dari tempatku dilahirkan dan dibesarkan, dan aku sama sekali tidak merindukan tempat itu.

           Usia kami berdua hampir sama. Tapi, kenapa kami berdua bisa sangat berbeda?

           “Aku malu punya saudara sepertimu.”

            Hanya itu satu-satunya kata yang diucapkan kakakku, yang biasanya selalu mengabaikanku, secara langsung kepadaku. Kata-katanya selalu terngiang dalam pikiranku dengan sangat jelas seperti ketika dia mengucapkannya padaku, dan aku pun mengepalkan tanganku.

            “Baguslah kalau begitu. Berarti, kau punya tempat untuk kembali,” tiba-tiba aku berkata seperti itu, dan itu menjadi monolog awal yang membuatku kesal. “Untuk apa kau datang ke tempat seperti ini? Kembali saja ke tempat adikmu…”

           “H-Hei, ada apa, kawan?”

           “Aku tidak sepertimu! Harusnya kau senang masih punya tempat yang bisa kau anggap sebagai rumahmu!” Aku pun bergegas berdiri, walau kakiku masih goyah. “Kau punya rumah, dan seorang adik yang tidak sedarah, namun sudah seperti keluarga dalam hatimu. Kau itu orang yang sangat beruntung, paham? Dan aku yakin ibu dan ayah kesayanganmu saat ini sangat mengkhawatirkanmu. Kau adalah orang sialan yang sangat beruntung di dunia ini!”

           Kemarahanku terasa memuaskan. Aku pun berbalik dan berjalan menjauhinya.

           Tapi, tiba-tiba Ace bergumam, “Ibuku sudah meninggal.”

           Suaranya pelan, samar-samar, dan nadanya sangat berbeda dari yang sebelumnya. Aku pun terpaksa berhenti. Aku sadar bahwa akulah yang kurang ajar, tapi aku tetap tidak bisa menahan diriku untuk berbalik dan mengatakan, “Lalu, ayahmu? Bagaimana dengan ayahmu?”

           Ace menjawab sambil memalingkan pandangannya, “Aku juga tak memiliki ayah…”

           Ini adalah ide yang buruk. Sekarang, situasinya malah jadi sangat canggung. Tapi, karena situasinya sudah terlanjur buruk, aku terus mendesaknya dan membuat alasan lain untuk diriku sendiri.

           “Saat bertemu ayahku, yang bisa dia katakan padaku hanya, ‘Jangan membuatku malu.’ Aku yakin bagaimana pun keadaan keluargamu, pasti itu jauh lebih baik dari apa yang kualami. Memangnya kenapa kalau ayahmu sudah tiada? Setidaknya kau masih punya kenangan bahagia yang bisa membuatmu tenang.”

           Entah kenapa tiba-tiba aku jadi terdiam. Ace menatapku. Dia terlihat ragu-ragu untuk berbicara, dan saat dia akhirnya bicara, dia berkata, “Aku sama sekali tak memiliki kenangan bahagia. Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajah ibuku. Dan ayahku juga bukan orang yang baik. Malah, dia adalah seorang kriminal.”

           “Kriminal?! Yang jelas, dia sudah tiada. Dan kau tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Kenapa kau terlihat murung begitu? Itu hanya masalah kecil!”

           Terdiam. Ekspresi Ace sama sekali tidak terlihat senang.

           Aku mencoba meyakinkannya. “Aku yakin dia pasti tidak seburuk itu! Kau terlalu melebih-lebihkan masalahmu! Lagipula, tak ada orang yang akan mengingat seorang kriminal biasa. Nyatanya, aku yakin tak ada yang akan menganggapmu buruk! Bukan maksudku mengatakan bahwa melakukan kejahatan adalah hal yang pantas — kecuali jika ayahmu adalah Raja Bajak Laut, jika memang begitu, aku bisa mengerti kenapa kau sangat mempermasalahkannya. Sebab, orang itu memang sangat buruk. Maksudku, aku pasti bakal ingin bunuh diri jika keadaannya seperti itu. Tapi, keadaanmu tidak seburuk itu, ‘kan? Eh? Jadi, berhenti bertingkah seolah kau adalah seorang protagonis dari semacam trage… di…”

           Aku memelankan suaraku. Ace menundukkan pandangannya ke arah gundukan pasir. Bibirnya terkunci rapat.

           “Maksudku… Tunggu dulu… kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?”

           Ada yang salah. Aku merasa aneh. Aku mencoba memberikan senyuman canggung, tapi itu percuma saja.

           “Kau… kau pasti bercanda.”

           Ace menutup matanya sambil sedikit menggelengkan kepalanya.

           “R-Roger…? Roger yang itu…? Si Raja Bajak Laut?”

           Tanpa berkata-kata, Ace menganggukkan kepala.

           Matahari sudah mulai terbenam, dan jauh di ujung langit, pemandangan sudah terlihat berwarna merah. Ace terdiam. Bahkan burung-burung laut, dengan suaranya yang menyebalkan, entah kenapa juga tidak bersuara. Hanya suara ombak saja yang bisa kudengar dengan jelas. Aku baru tahu kalau pulau ini juga bisa menjadi sunyi.

           Aku menatap wajahnya.

           Raja Bajak Laut, Gold Roger.

           Dia bukanlah “Kriminal biasa.” Dia adalah buronan legendaris, yang namanya dikenal semua orang di dunia ini. Dia adalah bajak laut yang menaklukkan Grand Line, dan berhasil mendapatkan harta karun legendaris, One Piece.

           Nyatanya, eksekusi publiknya malah membuat dunia berubah dalam semalam.

           Ada era sebelum Roger, dan ada era setelah Roger: sebesar itulah pengaruhnya di kalangan masyarakat. Orang-orang biasa takut padanya, Angkatan Laut dan Pemerintah Dunia mewaspadainya, dan orang-orang yang tidak termasuk dalam kategori tersebut menganggap Roger sebagai dewa. Seperti itulah orang yang bernama Roger.

           Sejujurnya, aku menganggapnya hampir sebagai seorang monster dari buku cerita. Dan sekarang putra dari monster itu, darah dagingnya, sedang berdiri di hadapanku?

           Sangat mustahil untuk menerima kenyataan ini. Kalau saja kami tidak terdampar bersama di pulau tak berpenghuni ini tanpa makanan dan minuman, aku pasti sudah menertawakan dia. Tapi, saat ini…

           Keadaan lapar dan haus yang luar biasa dalam situasi seperti ini membuat sifat asli manusia keluar. Kau akan bertindak dan mengatakan sesuatu yang biasanya tidak pernah kau lakukan maupun katakan — itulah sebabnya aku bersikap seperti sekarang ini.

           Baik Ace maupun aku tidak dapat berbohong dalam situasi seperti ini. Kami tidak berada dalam situasi yang tepat untuk saling berbagi kisah.

           Ace masih belum mengatakan apapun. Apa yang ada dalam pikirannya saat ini?

           Bisa jadi merupakan sebuah penyesalan; berharap dia tidak keceplosan mengungkapkan rahasia asal-usulnya. Tapi itu adalah sebuah kebenaran, dari dirinya yang terdalam, dan terungkap dikarenakan situasi sulit yang kami alami…

           “Sialan…”

           Aku mengecap lidahku dan memalingkan diriku dari Ace lagi.

           “Ah, h-hei, mau membuat kapal dengank —“ ajaknya.

           “Jangan bicara padaku lagi. Dari awal, aku tidak ada niat untuk menolongmu…”

           Aku bilang padanya bahwa aku tidak membutuhkan teman, dan berjalan meninggalkannya di sepanjang pasir pantai.

           Keadaan terasa sangat canggung saat aku meninggalkannya.

           Bahkan sebelum adanya pikiran untuk keluar dari pulau ini, makanan dan minuman merupakan masalah yang utama. Apa gunanya bisa keluar dari pulau ini jika saat di laut nanti bakal kelaparan dan kehausan?

           Aku meninggalkan Ace untuk membuat kapalnya sendiri dan memilih menelusuri pulau untuk mencari makanan dan minuman. Sayangnya, yang bisa kutemukan untuk dimakan hanyalah telur burung — benar-benar tidak cukup untuk memuaskan rasa laparku yang luar biasa ini. Tanpa disadari, aku dengan konyolnya berharap agar burung laut yang beterbangan di atas tiba-tiba mati dan jatuh tepat di sebelahku.

 

BERSAMBUNG KE PART 2





tags: baca Ace’s Story Volume 01 Chapter 01.1, Ace’s Story Volume 01 Chapter 01.1 manga, Ace’s Story Volume 01 Chapter 01.1 online, Ace’s Story Volume 01 Chapter 01.1 bab, Ace’s Story Volume 01 Chapter 01.1 chapter, Ace’s Story Volume 01 Chapter 01.1 high quality, Ace’s Story Volume 01 Chapter 01.1 manga scan, ,

Partner: Oploverz | Mangaku | Mangacan | Mangakyo | Mangashiro | Mangaindo | Silver Yasha | Komikstation | Komikfox | Achanime | NilaiTP | Pecinta Komik | NeuManga | Kiryuu | Overlordfree | Bacamanga

Totobet SGP